Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Kendala Polisi Atasi Tawuran Makassar Diserang Emak-emak hingga Warga Nobar

Shoppe Mall

Solok – Kendala Polisi Atasi Tawuran Upaya aparat kepolisian dalam menertibkan aksi tawuran di sejumlah titik di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampaknya masih menghadapi tantangan berat. Tidak hanya harus berhadapan dengan kelompok remaja yang nekat dan brutal, petugas di lapangan juga kerap mendapat perlawanan tak terduga dari warga sekitar — mulai dari serangan emak-emak hingga warga yang justru menonton aksi tawuran seperti tontonan gratis.

Fenomena ini semakin menambah kompleksitas penanganan tawuran yang belakangan sering terjadi di sejumlah wilayah Makassar, seperti di kawasan Panakkukang, Tamalate, dan Manggala. Dalam beberapa video yang beredar di media sosial, terlihat bagaimana aparat berusaha membubarkan massa remaja yang saling lempar batu dan petasan di jalanan, namun justru disambut dengan sorakan warga yang ramai menonton dari pinggir jalan.

Shoppe Mall

Polisi Diserang Saat Amankan Tawuran

Kendala Polisi Atasi Tawuran
Kendala Polisi Atasi Tawuran

Baca Juga :  TP-PKK Kota Solok Serahkan Bantuan Genting Tahap Keenam di Tiga Kelurahan

Salah satu kejadian yang mencuri perhatian terjadi beberapa waktu lalu di kawasan Jalan Abd. Dg. Sirua, Panakkukang. Saat petugas kepolisian berupaya melerai bentrokan antar kelompok remaja pada malam hari, tiba-tiba sejumlah ibu-ibu keluar dari gang dan meneriaki aparat agar tidak

menembakkan gas air mata. Beberapa di antaranya bahkan melemparkan benda ke arah petugas karena dianggap “terlalu keras” dalam membubarkan anak-anak mereka.

“Kami datang untuk melerai dan mengamankan situasi, tapi justru ditolak oleh sebagian warga. Ada yang marah-marah dan menghalangi petugas, bahkan ada ibu-ibu yang menyerang sambil teriak bahwa anaknya tidak bersalah,” ungkap seorang anggota polisi yang enggan disebut namanya.

Menurut polisi, perlawanan seperti ini sering membuat situasi di lapangan semakin sulit dikendalikan. Pasalnya, banyak dari pelaku tawuran masih berusia remaja, dan sebagian merupakan warga setempat yang dikenal oleh masyarakat di sekitar lokasi.

Warga Malah Nobar Aksi Tawuran

Selain perlawanan dari keluarga pelaku, kendala lain yang dihadapi polisi adalah minimnya kesadaran warga sekitar. Dalam sejumlah kasus, masyarakat justru berkerumun menonton tawuran layaknya tontonan sepak bola. Mereka merekam kejadian itu dengan ponsel, mengunggahnya ke media sosial, dan menertawakan aksi saling lempar batu antar kelompok remaja.

“Kadang kami baru datang untuk membubarkan, tapi sudah banyak warga menonton. Ada yang bersorak, ada yang malah menyorot kamera, bahkan ada yang bilang ‘ayo lanjut, seru ini’. Padahal itu berbahaya,” ujar Kasat Samapta Polrestabes Makassar, Kompol Ananda.

Polisi menilai, sikap sebagian warga yang pasif — bahkan mendukung secara tidak langsung — membuat upaya penegakan hukum menjadi tidak efektif. Situasi seperti ini seringkali memperlambat proses pembubaran karena petugas harus lebih berhati-hati agar tidak memicu keributan baru dengan masyarakat.

Tawuran Jadi Fenomena Sosial Baru

Tawuran di Makassar belakangan bukan lagi sekadar persoalan antar kelompok kecil, tetapi sudah menjadi fenomena sosial yang memprihatinkan. Aksi ini kerap dipicu oleh hal sepele, seperti ejekan di media sosial, persaingan antar kampung, atau balas dendam lama.

Dalam beberapa kasus, bentrokan berlangsung hingga dini hari dan menyebabkan kerusakan fasilitas umum, termasuk lampu jalan, pagar rumah warga, bahkan kendaraan yang sedang melintas. Polisi juga menemukan adanya penggunaan senjata tajam dan petasan besar, yang jelas membahayakan keselamatan.

Shoppe Mall